Menggunakan Lambang Catur untuk Mengajarkan Aritmatika

09/04/10

1. Lambang Catur Mempunyai Nilai – Nilai yang Bermakna Khusus.
Di dalam bahasa Inggris, penulisan huruf seperti ,..... biasanya digunakan untuk menghadirkan klasifikasi nilai –nilai numerik yang tidak diketahui. Huruf yang tidak dikenal ini biasanya juga disebut sebagai variabel dan biasanya huruf – huruf ini tidak mempunyai nilai- nilai yang menggambarkan maksud atau arti satu per satu. Dengan kata lain, penggunaan lambang catur dirasa lebih efektif karena pada lambang catur masing – masing telah pasti menggambarkan nilai – nilai yang mempunyai arti khusus dan nilai- nilai ini dihubungkan ke masing – masing lambang catur dengan kekuasaan yang dimiliki dalam permainan catur. Perhatikan contoh berikut ini :

Diketahui X = 1 dan Y = 3, maka X + Y = 1 + 3 = 4
Dari contoh diatas, X adalah 1 dan Y adalah 3 tetapi X tidak harus bernilai 1 dan Y tidak harus bernilai 3.
Jika kita menggunakan lambang catur, maka kita bisa menuliskan persoalan diatas sebagai :
pion + uskup = 4

Dari contoh diatas pion dan uskup masing – masing telah menggambarkan nilai 1 dan 3 berturut – turut secara rinci dan nilai- nilai itu tidak akan berubah hanya karena persoalan yang berbeda. Pada aljabar, para siswa akan mengganti X atau Y dengan nilai – nilai yang berbeda ketika nilai yang diberikan diubah. Dengan kata lain, nilai X dan Y dapat diubah untuk persoalan yang berbeda.
Untuk membandingkan nilai – nilai pengganti pada lambang catur dan nilai variabel – variabel secara aljabar, kita menyadari bahwa ada suatu perbedaan yaitu dalam penggantian lambang catur, bahwa penggantian adalah intuitive untuk anak – anak karena nilai – nilai dari lambang catur sulit digambarkan dan mempunyai banyak arti bagi mereka.
Lambang catur yang digunakan dalam buku catatan penulis dan menghubungkannya dengan persoalan matematika dengan menggunakan puzzle tidak perlu dipandang oleh anak – anak sebagai variabel karena nilai – nilai ini mempunyai arti khusus bagi anak – anak. Mereka dapat dengan mudah menghubungkan antara lambang catur dan nilai yang relative bagi mereka dengan lebih baik. Penggunaan figur hewan atau lambang lainnya seperti puzzle akan begitu kurang berarti dan kurang menarik bagi anak – anak jika dibandingkan dengan penggunaan lambang catur dalam persoalan matematika.
Masing – masing anggota dalam permainan catur telah dibekali nilai – nilai yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, berikut ini adalah nilai – nilai yang dibekali dalam lambang catur dan telah digunakan dalam buku catatan penulis :

K (raja) = bernilai 0
P (pion) = bernilai 1
N (kuda) = bernilai 4
B (uskup) = bernilai 3
R (benteng) = bernilai 5
Q (ratu) = bernilai 9

Dengan telah ditentukannya nilai – nilai yang terkandung di dalam lambang catur, maka anak – anak dapat dengan mudah menghubungkan nilai – nilai tersebut dengan mengubah variabel – variabel yang tertera dalam persoalan matematika yang dihadapi ke dalam lambang catur.

2. Lambang Catur Mempunyai Gerakan yang Penuh Arti.
Alasan lain dari penggunaan lambang catur ke dalam persoalan matematika adalah nilai dari masing – masing lambang catur tersebut mewakili tugas pergerakan dan arah pergerakan dengan waktu yang bersamaan itu menyerupai beberapa operator aritmatika. Sebagai contoh benteng dalam permainan catur dapat bergerak naik – turun, ke kanan – ke kiri dan dengan pergerakan seperti itu dalam aritmatika terlihat seperti a + tanda.
Masing – masing lambang catur mempunyai suatu arah gerakan yang telah ditentukan berdasarkan nilai – nilai yang telah diwakilkan dan arah pergerakan ini adalah bersesuaian dengan kekuasaan masing – masing anggota yang ada pada catur. Penulis mendapatkan keuntungan dari pergerakan anggota – anggota catur dan mengilustrasikannya sebagai berikut :

Penjumlahan (+) = benteng
Pengurangan (-) = kuda
Perkalian (x) = uskup
Pembagian (:) = raja

Dengan menggunakan pengilustrasian diatas ke dalam persoalan matematika, anak - anak dapat dengan mudah memecahkan persoalan matematika yang dihadapi. Perhatikan contoh berikut ini :

diketahui 2 + 3 = 5 kemudian 3 x 2 = 6
Jika kita menggunakan ilustrasi dari pergerakan lambang catur, maka soal tersebut akan menjadi :

diketahui 2 benteng 3 = 5 kemudian 3 uskup 2 = 6

Dari persoalan diatas, terlihat bahwa penggunaan ilustrasi dari pergerakan lambang catur lebih menyenangkan daripada langsung menggunakan variabel yang sebenarnya.

Salah satu permasalahan dalam pendidikan matematika adalah sulitnya memahami konsep-konsep matematika dikarenakan penyampaian materi yang rumit dan membosankan. Kebanyakan siswa saat ini merasa jenuh dan kurang menikmati apa yang mereka pelajari dalam matematika. Sebagian besar siswa yang kesulitan untuk memahami konsep matematika saat proses pembelajaran berlangsung dikarenakan penyampaian materi yang rumit (Mays, 2005). Artikel yang berjudul “Using Chess Symbols to Teach Arithmetic” adalah merupakan ulasan dari sebuah buku yang berjudul “The Mathematical Chess Puzzles for Juniors” yang dikarang oleh Frank Ho (2006) yang berusaha untuk menarik minat siswa untuk mamahami konsep dalam belajar matematika dengan menggunakan lambang catur.
Menurut penulis, penggunaan lambang catur adalah salah satu media pembelajaran yang efektif untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran matematika karena minat itu sendiri adalah suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan sesuatu media yang menariknya ( I.L Pasaribu & Simanjuntak, 1999). Dengan kurangnya minat dari siswa untuk mengikuti proses pembelajaran maka akan berpengaruh negatif pada siswa itu sendiri yaitu tidak tercapainya tujuan dari preoses pembelajaran. Raymond J.W dan Judith (2004:22) mengungkapkan bahwa secara harfiah anak – anak memiliki minat untuk tertarik pada belajar, pengetahuan, seni (motivasi positif) namun mereka juga bisa tertarik pada hal – hal yang negatif. Sementara itu, gagasan tentang penggunaan lambang catur pada pembelajaran matematika yang dikemukakan penulis di dalam bukunya melalui serangkaian penelitian dan pengalaman penulis sebagai seorang pengajar menunjukkan anggapan ini. Penulis juga menjelaskan isi dari buku yang di karangnya adalah untuk mengeksplorasi peranan alat bantu dalam memfasilitasi dan memudahkan siswa untuk menganalisis dan memahami masalah secara kreatif dan konseptual. Alat bantu itu digunakan untuk memudahkan pemahaman siswa akan konsep aritmatika. Penulis berpendapat bahwa catur adalah tidak hanya sebagai permainan tetapi juga dapat difungsikan sebagai media pembelajaran matematika, khususnya pada materi aritmatika. Anak – anak tersebut tidak hanya belajar catur, tetapi juga mempunyai peluang untuk menyelidiki teka – teki catur dengan menerapkan pengetahuan dasar tentang permainan catur. Penulis menganalisis nilai dari masing – masing lambang catur dan kemudian menghubungkan nilai dan lambang catur ke dalam operasi aritmatika. Penerapan penggunaan lambang catur ke dalam persoalan aritmatika adalah dengan mengganti variabel – variabel yang biasa digunakan dalam persoalan aritmatika dengan lambang catur. Misalnya variabel X dan Y dapat diubah menjadi Pion dan Uskup. Berdasarkan isi dari artikel tersebut, dijelaskan bahwa penulis telah menentukan nilai dari masing – masing lambang catur yaitu K(raja) = 0, P(pion) = 1, N(kuda) = 4, B(uskup) = 3, R(benteng) = 5, Q (ratu) = 9. Dari nilai – nilai yang ditentukan oleh penulis diatas, masing – masing lambang catur telah memiliki nilai – nilai secara rinci dan nilai – nilai itu tidak akan berubah hanya karena dihadapkan pada persoalan yang berbeda. Namun pada variabel X dan Y, pada aljabar dapat berubah nilainya ketika pada soal nilai variabel yang diberikan diubah. Hal ini berarti bahwa nilai X dan Y dapat berubah untuk persoalan yang berbeda.
Pengalaman penulis menggunakan lambang catur dalam mengajarkan operasi aritmatika sangat positif. Para siswa sekolah dasar yang belum mempelajari tentang variabel tetapi sudah mahir dan lancar mengerjakan lembar soal yang diberikan dengan menggunakan lambang catur. Itu artinya bahwa penggunaan lambang catur terbukti dapat membantu para siswa untuk mampu menyerap konsep dari variabel ajabar dan substitusi dengan cara yang efektif dan alami. Tidak perlu menjelaskan konsep – konsep tentang variabel selain daripada nilai – nilai anggota catur yang telah ditentukan. Sebagai contoh :
Benteng + 5 =.....
Untuk menjawab soal itu, guru hanya harus mengingatkan siswa pada nilai yang telah dimiliki oleh benteng. Dengan telah ditentukannya nilai – nilai yang terkandung pada lambang catur, maka anak – anak dapat dengan mudah menghubungkan nilai – nilai tersebut dengan mengubah masing – masing variabel yang tertera pada soal. Alasan mengapa para siswa mudah memahami konsep tentang substitusi adalah para siswa mampu menghubungkan nilai yang dimiliki masing – masing anggota catur dikarenakan minat dan rasa senang yang muncul ketika menggunakan lambang catur sebagai media pembelajaran. Ketika kemudahan dalam memecahkan suatu permasalahan telah didapat, maka hal ini dapat memicu timbulnya minat pada diri siswa untuk memahami konsep pembelajaran. Apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun tidak penting, selalu dipengaruhi oleh minat yang kemudian diikuti oleh motivasi (Ngalim Purwanto, 2004:64-65). Ini berarti, apapun tindakan yang dilakukan seseorang selalu berawal dari minat dan diikuti oleh motivasi sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada minat dan motivasinya.
Nilai dari masing – masing lambang catur yang mewakili tugas pergerakan dan arah pergerakan dengan waktu yang bersamaan oleh penulis dikatakan menyerupai beberapa operator aritmatika dan alasan inilah yang juga melatarbelakangi penulis menggunakan lambang catur kedalam persoalan matematika. Penulis mencontohkan benteng dalam permainan catur yang dapat bergerak naik – turun dan ke kanan – ke kiri secara vertikal dan horizontal yang secara aritmatika terlihat seperti a + tanda. Di dalam permainan catur, masing – masing lambang telah dibekali suatu arah gerakan yang ditentukan berdasarkan nilai yang telah diwakilkan dan arah pergerakan ini adalah bersesuaian dengan kekuasaan masing – masing anggota yang ada pada catur. Berdasarkan pergerakan itu, penulis mengilustrasikannya kedalam operasi aritmatika, yaitu penjumlahan (+) = benteng, pengurangan (-) = kuda, perkalian (x) = uskup, pembagian (:) = raja.
Penulis mencatat dalam artikelnya berdasarkan penelitian dan pengalaman mengajar yang dimiliki bahwa penggunaan nilai – nilai serta ilustrasi pada pergerakan lambang catur ternyata lebih efektif dan menyenangkan bagi para siswa dalam memecahkan persoalan aritmatika daripada langsung menggunakan variabel – variabel dan operasi – operasi aritmatika yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan lambang catur lebih mudah dicerna dan diterima di otak para siswa jika dibandingkan dengan media pembelajaran lainnya.
Penulis mempunyai persepsi bahwa salah satu masalah yang menyebabkan siswa sulit memahami konsep – konsep matematika yang diajarkan adalah kurangnya minat dari dalam diri siswa untuk bekerja, berpikir, dan menikmati materi pembelajaran yang disampaikan. Hal ini disebabkan oleh penyampaian materi yang begitu rumit dan membosankan. Dari masalah tersebut, penulis mempunyai ide menggunakan lambang catur sebagai media pembelajaran yang bertujuan untuk lebih menarik minat siswa dalam memahami konsep matematika. Setelah penulis melakukan penelitian serta berbekal pada pengalamannya sebagai pengajar, ternyata penggunaan lambang catur sebagai media pembelajaran berpengaruh dalam menarik minat siswa untuk berusaha memahami konsep matematika. Pertama, penulis menjelaskan bagaimana permainan catur, kemudian menentukan nilai yang dibekali pada masing – masing lambang catur. Setelah masing – masing lambang catur diberikan nilai, kemudian menghubungkannya kedalam persoalan matematika dengan cara mengubah variabel – variabel yang tertera pada soal dengan lambang catur berdasarkan nilai yang telah ditentukan. Dengan cara ini para siswa terbukti mampu menguasai konsep aritmatika secara aljabar dengan mudah dalam mengubah variabel – variabel pada soal dengan lambang catur. Kedua, selain menentukan nilai masing – masing lambang catur dengan mengubah variabel pada soal, penulis juga mengilustrasikan operasi aritmatika ke dalam lambang catur berdasarkan pada arah gerak yang dimiliki anggota catur. Jadi, setiap anggota catur mewakili operasi perhitungan aritmatika berdasarkan arah gerak dari masing – masing anggota catur.
Berdasarkan penelitian dan pengalaman penulis sebagai pengajar serta berbagai respon dari siswa yang diajar, penulis menemukan fakta bahwa penggunaan lambang catur sebagai media pembelajaran sangat membantu para siswa – siswa sekolah dasar yang kesulitan memahami konsep dari aritmatika. Yang paling menarik dari penggunaan lambang catur adalah bahwa setiap anggota catur tidak hanya dapat diberi nilai, tetapi juga dapat diilustrasikan sebagai operasi aritmatika berdasarkan arah pergerakan yang dimiliki anggota catur.
Dengan menggunakan lambang catur, sebuah langkah sederhana dari pemecahan masalah perhitungan aritmatika dapat menjadi beragam langkah pemecahan, dan hasilnya lambang catur dengan nilai pengetahuan yang dimiliki anak dapat meningkat pada saat anak bekerja pada jenis persoalan yang berbeda, kemudian meningkatkan kinerja otak dan kemampuan anak untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.
Penggunaan lambang catur sebagai media pembelajaran matematika yang dikemukakan oleh penulis tidak hanya terbatas pada konsep aritmatika saja. Banyak konsep materi matematika yang dapat menggunakan lambang catur sebagai media pembelajarannya seperti urutan dan deret, ilmu ukur, teori pasti, logika dll. Dengan kata lain, cara pengintegrasian begitu beranekaragam dan juga melibatkan arah penggambaran yang beragam.

0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP